Suaka Elang Loji: Elang, Hutan, dan Curug di Akhir Perjalanan 

Suaka Elang Loji merupakan kawasan konservasi elang yang berada di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Selain menjadi tempat rehabilitasi bagi beberapa jenis burung pemangsa, kawasan ini juga menawarkan jalur hiking menuju Curug Cibadak yang dapat ditempuh sekitar satu jam dari pusat konservasi. Perpaduan edukasi dan wisata alam membuat tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati hutan dengan pengalaman yang berbeda. 

Pertama kali mendengar nama tempat ini, yang aku bayangkan adalah sebuah kawasan yang dipenuhi banyak elang dengan berbagai aktivitas di dalamnya. Mungkin aku bisa melihat proses pemberian makan atau bahkan berfoto bersama elang, seperti yang pernah aku lihat di beberapa tempat wisata lainnya.

Tapi ternyata aku salah besar.

🌿 Awal Perjalanan

Perjalanan kali ini dimulai dari tengah Kota Bogor. Aku berkumpul bersama peserta lainnya di Stasiun Paledang untuk mendapatkan informasi singkat mengenai tempat yang akan kami kunjungi: Suaka Elang Loji.

Kami kemudian dibagi ke dalam tiga angkot sewaan, dengan masing-masing angkot berisi sekitar delapan orang. Dari Stasiun Paledang, perjalanan menuju kawasan Cijeruk, Bogor, memakan waktu sekitar satu jam.

Sesampainya di lokasi, suasananya langsung terasa berbeda. Udaranya sejuk dan keadaan di sekitar terasa begitu tenang.

Trekking dimulai dengan menyusuri jalan setapak, melewati sebuah jembatan kecil, kemudian dilanjutkan dengan menaiki tangga batu. Anak tangganya cukup lebar, tetapi kami tetap harus berhati-hati karena beberapa bagian terasa licin dan berlumut.

Aku sempat menggunakan toilet yang berada di titik pemberhentian pertama, tepat di dekat papan selamat datang kawasan Suaka Elang. Waduh, airnya segar banget! Dingin dan bersih. Rasanya seperti ingin cuci muka terus-terusan. 

Setelah berjalan santai selama kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di pusat rehabilitasi elang. Yang ditandai dengan adanya patung elang dan di sekitarnya ada beberapa rumah yang ternyata itu adalah visitor center dan klinik. 

Suasananya tidak kalah menawan, tenang, syahdu, dan dikelilingi pepohonan tinggi. Udara di dalam hutan terasa semakin lembap. Sesekali terdengar suara burung bersahutan dari balik pepohonan, sementara cahaya matahari masuk tipis-tipis melalui sela-sela daun. 

Kami berkumpul tepat di depan klinik, untuk mendapatkan penjelasan lebih detail dari relawan disana terkait dengan tempat konservasi tersebut dan juga informasi lain yang terkait dengan elang.

Elang merupakan predator puncak yang memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem. Sayangnya, ancaman seperti perburuan dan perdagangan satwa liar masih menjadi masalah bagi berbagai jenis burung pemangsa.

Kemudian kami diajak menuju ke kandang display dimana terdapat beberapa elang yang sudah tidak mungkin dikembalikan ke alam liar dikarenakan kondisi yang mereka alami, kami diwajibkan untuk memakai masker agar melindungi burung dari penularan penyakit atau bakteri yang mungkin dibawa oleh kita manusia, mencegah stres pada satwa, serta untuk menjaga kebersihan.

Relawan memberikan penjelasan tentang rehabilitasi elang di Suaka Elang Loji.

Di sini kami mendapatkan penjelasan dari setiap elang dan melihat langsung kondisi mereka, di antaranya ada yang mengalami luka atau kondisi permanen yang membuat mereka tidak dapat terbang lagi secara normal, sehingga tidak memungkinkan untuk dilepas kembali ke alam liar. Cukup sedih sebenarnya mendengar cerita elang ini satu per satu. Namun, ada juga rasa lega mengetahui bahwa masih ada elang yang hidup bebas di alam dan mampu bertahan di habitat alaminya, walaupun jumlahnya sudah sangat terbatas dan mendekati kepunahan.

Dalam kunjungan ini, aku juga baru mengetahui sesuatu yang menarik tentang Elang Jawa dan kaitannya dengan simbol Garuda. Bagian ini membuatku semakin penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang burung yang menjadi salah satu satwa ikonik Indonesia ini.

Di sisi lain kawasan konservasi, terdapat spot yang cukup menarik, yaitu sebuah jembatan gantung tepat di atas aliran sungai. Untuk melewatinya, kami hanya diperbolehkan berjalan maksimal lima orang dalam satu waktu. Ternyata jembatan tersebut juga menjadi penghubung menuju area kandang karantina.

Jembatan gantung menuju area karantina di Suaka Elang Loji Bogor.

Tidak jauh dari sana, terdapat area yang cukup luas untuk beristirahat. Kami bisa bersantai, berfoto bersama, atau sekadar menikmati suasana hutan di sekeliling kami.

Setelah puas berfoto dan beristirahat, kami kembali melintasi jembatan. Kali ini, perjalanan yang sebenarnya baru akan dimulai, yaitu hiking sekitar satu jam menuju curug yang berada lebih jauh ke dalam kawasan.

🌿 Perjalanan Menuju Curug Cibadak

Pada awal perjalanan, jalurnya masih cukup bersahabat. Kami melewati jalan setapak yang relatif aman dan mudah dilalui, sebelum akhirnya bertemu dengan kawasan hutan pinus yang cantik. Area ini juga sering digunakan untuk berkemah.

Jalur hutan pinus menuju Curug Cibadak di Suaka Elang Loji.

Tersedia toilet dan juga musholla di dekat area camping.

Jalannya memang sudah berupa tanah, tetapi masih nyaman untuk dilewati dengan santai.

Setelah melewati batas area camping, karakter jalurnya mulai berubah.

Jalanan semakin menyempit, bebatuan mulai mendominasi, dan trek perlahan menanjak. Di bagian ini, stamina dan konsentrasi mulai dibutuhkan agar tidak terpeleset, terutama jika perjalanan dilakukan setelah hujan karena beberapa bagian jalur bisa menjadi licin.

Sesampainya di Pos 1, suasananya terasa semakin rindang karena jalur dikelilingi pepohonan lebat di sisi kanan dan kiri. Hanya saja, napas mungkin sudah mulai ngos-ngosan, terutama bagi yang tidak rutin berolahraga. 

Nah, tantangan sebenarnya dimulai dari Pos 1 menuju Pos 2.

Jalurnya semakin sempit lagi, jumlah bebatuan semakin banyak, dan beberapa di antaranya cukup besar serta tinggi. Aku harus lebih berhati-hati karena di beberapa bagian, sisi kiri jalur berbatasan dengan jurang.

Jadi kalau mau selfie atau ngevlog, tentu saja boleh. Tapi harus tetap waspada dan perhatikan tempat berpijak, ya. Jangan sampai terlalu fokus mencari angle terbaik sampai lupa melihat jalan, eh terus pindah alam, sudahlah membahayakan diri sendiri plus tentunya merepotkan orang lain juga.

Sesampainya di Pos 2, aku cukup terkejut karena bentuknya bukan seperti pos peristirahatan pada umumnya. Pos ini berupa sebuah jembatan pendek tempat kami bisa berhenti sejenak, berfoto, dan menikmati pemandangan serta suara alam di sekitarnya.

Sama seperti jembatan sebelumnya, jumlah orang yang boleh berada di atas jembatan dalam waktu bersamaan juga dibatasi.

Dari Pos 2, rasanya sudah mulai sedikit lega karena curug yang kami nantikan akhirnya terlihat. Tinggal melanjutkan perjalanan sedikit lagi melewati jalur yang sedikit curam dan mulai menurun.

Bebatuannya masih sama besarnya dengan jalur sebelumnya, jadi tetap harus berhati-hati dan memperhatikan setiap langkah.

🌿 Akhirnya Sampai di Curug

Dan ternyata, curugnya seindah itu. 

Begitu langkah terakhir terlewati, suara gemuruh air yang sejak tadi hanya terdengar samar akhirnya berubah menjadi pemandangan yang benar-benar ada di depan mata. Curug Cibadak berdiri tinggi di antara bebatuan dan hijaunya pepohonan. Rasanya, semua rasa lelah setelah hampir satu jam berjalan langsung terbayar. 

Curug Cibadak di kawasan Suaka Elang Loji, Bogor.

Mau mancing juga mungkin boleh, yah… kalau memang ada ikannya, hehe.

Setelah menikmati suasana sekitar 20 menit, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke basecamp bersama beberapa teman. Cuaca sudah mulai mendung dan aku khawatir hujan akan membuat jalur berbatu yang tadi kami lewati menjadi semakin licin dan berbahaya.

Perjalanan kembali menuju basecamp ternyata memakan waktu lebih singkat. Mungkin karena kami sudah lapar dan ingin segera berganti pakaian, karena baju yang kami gunakan sudah basah oleh keringat. Kurang lebih 45 menit kemudian, akhirnya kami kembali sampai di basecamp.

🌿 Yang Kubawa Pulang dari Perjalanan Ini

Sebelum datang ke Suaka Elang, aku mengira tempat ini hanya tentang melihat burung pemangsa dari dekat. Ternyata aku pulang dengan pemahaman yang berbeda. Aku jadi sadar bahwa tidak semua elang yang berada di sana bisa kembali terbang bebas, dan justru dari cerita mereka aku belajar bahwa menjaga alam bukan hanya tentang mencintainya, tetapi juga tentang tidak merusaknya sejak awal.

🌿 Tips Sebelum Berkunjung

  • 🥾 Gunakan sepatu trekking atau sepatu olahraga dengan grip yang baik karena jalurnya berbatu dan bisa menjadi sangat licin setelah hujan.
  • 💧 Bawa air minum yang cukup agar tetap terhidrasi selama perjalanan.
  • 🦯 Jika memiliki trekking pole, jangan ragu membawanya. Alat ini akan sangat membantu menjaga keseimbangan, terutama saat melewati jalur berbatu dan turunan menuju Curug Cibadak.
  • 🌧️ Siapkan jas hujan atau payung, terutama jika berkunjung saat musim hujan. Cuaca di kawasan hutan bisa berubah cukup cepat.
  • 🎒 Gunakan tas yang nyaman dan tidak terlalu berat agar lebih leluasa bergerak di jalur.
  • ♻️ Jangan meninggalkan sampah dan selalu hormati kawasan konservasi agar alam tetap terjaga.
  • 👕 Bawa kaus atau pakaian ganti jika berencana kembali ke kota setelah hiking. Meskipun jalurnya tidak terlalu panjang, trek yang menanjak cukup membuat badan berkeringat. 

➡️ Baca juga

Setiap perjalanan selalu punya cerita yang berbeda. Kalau kamu ingin menjelajahi sudut lain di Bogor, kamu juga bisa membaca pengalamanku menyusuri Cisadon, sebuah perjalanan singkat yang penuh kejutan dan cerita di sepanjang jalur.

🌿 Sebelum Langkah Ini Berakhir…

Elang terbang di langit tinggi,

Hutan hijau menyejukkan mata.

Perjalanan boleh saja berhenti di sini,

Tapi ceritanya akan tinggal lebih lama. 💜💜💜