Untuk perjalanan kali ini yang terbayang di dalam pikiranku, adalah sebuah tempat dengan kondisi yang masih sejuk dan banyak pepohonan, plus bisa mengumpulkan dokumentasi yang cukup banyak terkait dengan lokasi ini. Mengingat Bogor banyak dikenal dengan curugnya dan juga disebut sebagai Kota Hujan.
Tapi ternyata banyak hal yang sangat di luar prediksi…dan aku kembali salah perkiraan.
🌿 Persiapan Menuju Gunung Munara
Persiapan yang kubawa adalah trekking pole, air minum satu liter, sepatu trekking, beberapa camilan, jas hujan, obat-obatan ringan, dan baju ganti. Seperti biasa, aku memulai perjalanan dengan berkumpul di tengah Kota Bogor, tepatnya di Stasiun Paledang. Di sana, kami mendapatkan informasi singkat mengenai perjalanan menuju Gunung Munara.
Kami berangkat menggunakan 3 angkot yang telah disewa dan akan menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam ke arah Rumpin. Karena terjadi kendala dalam pemesanan, sarung tangan yang seharusnya dibagikan sebelum keberangkatan belum tersedia. Kami pun sempat berhenti di sebuah toko bangunan untuk membelinya sebelum melanjutkan perjalanan.
Awalnya aku masih bersemangat memperhatikan pemandangan, tetapi perjalanan yang cukup panjang akhirnya membuatku beberapa kali tertidur di dalam angkot.
Perhentian berikutnya adalah Indomaret, lokasi terakhir bagi kami untuk membeli kebutuhan selama pendakian sekaligus menggunakan toilet.
Setelah hampir dua jam perjalanan dan melewati sebuah jembatan besar dengan pemandangan yang cukup indah, kami akhirnya tiba di basecamp. Cuaca mulai terasa panas sehingga aku memutuskan untuk melepaskan jaket dan menitipkan baju ganti agar bawaan saat mendaki tidak terlalu berat.
🌿 Memulai Pendakian dari Basecamp
Pendakian dimulai dengan menyusuri jalan setapak di antara rumah warga. Setelah itu, kami menyeberangi jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Kami tidak diperbolehkan melewatinya secara beramai-ramai karena khawatir jembatan tersebut tidak mampu menahan beban.

Setelah melewati jembatan, kami mulai memasuki jalur menanjak yang dikelilingi pohon bambu. Aku sempat membayangkan betapa menyeramkannya tempat ini pada malam hari tanpa penerangan.
Hal lain yang cukup berbeda dari perjalanan sebelumnya adalah banyaknya semut merah dan nyamuk di sepanjang jalur. Karena itu, sebaiknya gunakan pakaian panjang, lotion antinyamuk, dan sepatu yang nyaman untuk melewati jalur berbatu.

🌿 Jalur Berbatu yang Mulai Menguji Langkah
Perjalanan menuju puncak Gunung Munara dapat ditempuh sekitar satu hingga dua jam. Namun, waktunya bisa lebih lama apabila sering berhenti atau beristirahat. Meskipun jalurnya cukup rimbun, udara di dalam hutan tetap terasa panas dan lembap.
Suasana di Pos 1 masih cukup sejuk. Dari sini, kami bahkan sudah dapat melihat tujuan utama perjalanan, yaitu puncak Gunung Munara. Jalur mulai terasa lebih berat karena dipenuhi bebatuan besar dan semakin menanjak. Kami pun mulai fokus pada langkah masing-masing. Hanya beberapa orang yang masih berbicara dan bercanda.
Gunung Munara sebenarnya tidak terlalu tinggi, tetapi jalurnya cukup menantang. Gunung ini juga menyimpan sejumlah cerita sejarah, antara lain Goa Bung Karno dan Batu Belah.
Perhentian pertama kami adalah sebuah goa yang bebatuannya diselimuti akar-akar pohon besar. Tempatnya cukup unik, tetapi kami harus berhati-hati apabila ingin merekam sambil berjalan karena salah melangkah sedikit saja bisa membuat kaki terkilir.

Setelah puas berfoto di antara akar-akar besar tersebut, kami kembali melanjutkan perjalanan melewati jalur menanjak yang dipenuhi bebatuan besar. Di atasnya terdapat area yang cukup luas dan terbuka. Meskipun agak gersang, tempat ini menawarkan pemandangan yang indah dan bisa digunakan untuk beristirahat sejenak setelah melewati jalur sebelumnya.
🌿 Menantang Diri di Batu Belah
Setelah pembagian sarung tangan dan penyampaian informasi tambahan, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Batu Belah. Di lokasi ini, rombongan dibagi menjadi dua kelompok agar antrean pendakian tidak terlalu padat.
Sambil menunggu giliran, kelompok pertama dapat menjelajahi area goa di bagian bawah. Struktur batuannya yang unik juga menjadi salah satu spot menarik untuk mengambil foto atau video.

Setelah kelompok pertama selesai menjelajahi area goa, kami bergantian mendaki menuju bagian atas Batu Belah. Area puncaknya hanya dapat ditempati maksimal empat orang karena cukup sempit dan salah satu sisinya langsung menghadap jurang.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 saat aku mulai mengantre di Batu Belah. Pendakiannya memang tidak terlalu tinggi, tetapi kemiringan bebatuan yang cukup tajam, terik matahari, dan minimnya pengaman tambahan sempat membuatku tegang. Hanya ada satu tali yang digunakan secara bergantian untuk naik dan turun. Kami harus mengandalkan kekuatan tubuh sendiri ketika menarik tali, jadi tetap harus semangat. Hehe.
Setelah mencapai bagian atas, ketegangan ternyata belum berakhir. Areanya sangat sempit sehingga kami harus bergantian memberikan ruang kepada teman yang akan turun.
Pemandangannya memang juara. Gunung yang sebelumnya terlihat begitu besar dari dalam angkot kini tampak jauh lebih kecil. Namun, saat melihat ke bawah dari sisi lainnya, jantungku kembali berdegup kencang karena area tersebut langsung berbatasan dengan jurang. Keinginan untuk berfoto dengan berbagai gaya pun mendadak hilang. Takut salah duduk lalu malah pindah alam. 😂

Proses turun tidak kalah menegangkan. Kami diminta untuk memercayai tali yang dipegang dan mengikuti arahan pemandu. Aku langsung menimpali, “Percaya kepada Allah dulu, baru kepada tali.” Untungnya, pemandu tertawa dan mengiyakan. 😂
Saat turun, posisi badan harus tetap tegak dan tali dipegang dengan kedua tangan. Kami juga diingatkan agar tidak membungkuk atau memegang bebatuan di sisi kanan dan kiri.
Aku tidak terbayang bagaimana rasanya turun tanpa menggunakan sarung tangan. Meskipun sudah memakainya, tali tetap terasa panas ketika bergesekan dengan tangan. Kami juga harus memperhatikan setiap pijakan agar tidak terpeleset atau terkilir. Karena jalur ini tidak dilengkapi pengaman tambahan, mengikuti arahan pemandu dan menyadari kemampuan diri menjadi hal yang sangat penting.

Di sekitar Batu Belah terdapat beberapa area yang cukup landai dan rimbun untuk beristirahat. Ada juga warung yang menjual makanan dan minuman ringan, meskipun variasi menunya tidak terlalu banyak.
🌿 Perjalanan Terakhir Menuju Puncak Gunung Munara
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul dua siang. Cuaca terasa semakin panas dan rasa haus mulai menyerbu. Air minum yang kubawa sejak pagi ternyata sudah habis, padahal perjalanan menuju puncak Gunung Munara masih harus ditempuh sekitar 30 menit dengan kondisi jalur yang semakin ekstrem.
Tanjakan semakin banyak dan jalurnya semakin sempit. Di salah satu titik terdapat dua jalur yang bisa dipilih. Saat itu, salah satu jalur sedang dipenuhi rombongan yang hendak turun sehingga aku dan beberapa teman memilih jalur lainnya. Ternyata jalur yang kami pilih justru lebih ekstrem, dengan bebatuan tinggi dan jurang di sisi kanannya.
Tidak apa-apa, tantangan adalah salah satu kunci kehidupan. Hehe. Kami pun melanjutkan perjalanan dan disambut pemandangan yang sangat indah.

Saat napas mulai tersengal dan rasa haus semakin menyerbu, akhirnya kami tiba di puncak Gunung Munara. Begitu melihat sebuah warung, aku langsung bertanya, “Bu, ada air mineral dingin?” Untungnya masih tersisa satu botol.
Baru kali ini persediaan air minumku sudah habis sebelum kembali ke basecamp. Rupanya, teriknya cuaca membuat kebutuhan air selama pendakian jauh lebih banyak daripada biasanya.
🌿 Beristirahat di Puncak Gunung Munara
Suasana di puncak cukup sejuk. Terdapat bebatuan besar, beberapa spot foto yang ikonik, serta papan bertuliskan 1119 MDPL yang sering digunakan pengunjung untuk berfoto.
Sayangnya, kami tidak dapat berlama-lama di puncak karena keterbatasan waktu. Perut juga sudah meronta-ronta minta diisi dan rasa haus masih belum menghilang. Setelah beristirahat sekitar sepuluh menit, kami pun melanjutkan perjalanan turun.

🌿 Perjalanan Turun dan Kembali ke Basecamp
Perjalanan turun ternyata cukup cepat, hanya memang harus berhati-hati setiap melewati bebatuan yang besar, plus semutnya masih terus mengikuti, baik di puncak gunung maupun sampai di area hutan bambu.
Setelah melewati Goa Bung Karno dan sebelum mencapai Pos 1, kami kembali menemukan sebuah warung. Aku pun membeli satu botol air mineral dingin karena air yang sebelumnya kubeli sudah habis lagi. Dalam perjalanan kali ini, aku sampai membeli minuman sebanyak dua kali.
Perjalanan turun membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Meskipun lebih cepat, kami tetap tidak boleh mengabaikan kondisi jalur berbatu. Aku bahkan sempat beberapa kali terpeleset meskipun sudah sangat berhati-hati memilih pijakan.
Sampai di basecamp rasanya senang luar biasa. Yang terbayang di kepalaku hanyalah nasi, sayur, gorengan, dan sambal. Namun, ternyata ada satu pemandangan lain yang tidak kalah menarik: abang penjual bakso Malang yang baru saja mangkal di dekat lokasi.
Setelah makanan utama selesai disantap, gongnya tentu saja dilanjutkan dengan membeli bakso. Rupanya perutku masih menyisakan sedikit ruang untuk makanan tambahan. Sepertinya ini efek dari pendakian singkat yang ternyata cukup ekstrem. 😂
🌿 Tips Mendaki Gunung Munara untuk Pemula
- Bawa trekking pole untuk membantu menjaga keseimbangan saat melewati jalur berbatu.
- Bawa air minum lebih dari satu liter, terutama apabila cuaca sedang terik.
- Gunakan sarung tangan saat melewati jalur bertali.
- Ikuti arahan pemandu dan jangan memaksakan diri di area Batu Belah.
- Bawa uang tunai untuk membeli makanan atau minuman di warung.
- Gunakan pakaian panjang dan lotion antinyamuk.
- Hindari memaksakan diri untuk berfoto di area sempit atau curam.
🌿 Yang Kubawa Pulang dari Perjalanan Ini
Gunung Munara mungkin tidak terlalu tinggi, tetapi perjalanan kali ini kembali mengingatkanku bahwa ketinggian bukanlah satu-satunya ukuran sebuah tantangan. Jalur berbatu, panas terik, persediaan air yang habis, hingga rasa takut saat berada di Batu Belah membuat pendakian singkat ini terasa tidak semudah yang kubayangkan.
Pada akhirnya, bukan hanya pemandangan dari puncak yang kubawa pulang, tetapi juga satu pengingat sederhana: terkadang perjalanan yang terlihat mudah justru menyimpan tantangan dan cerita yang paling sulit dilupakan.
➡️ Baca juga
Kalau kamu ingin menikmati cerita perjalanan dengan suasana hutan yang lebih teduh, kamu juga bisa mengikuti pengalamanku menyusuri jalur menuju Suaka Elang.
🌿 Sebelum Langkah Ini Berakhir…
Naik Batu Belah berpegangan tali,
Melihat jurang membuatku terpaku.
Boleh berfoto sambil menguji nyali,
Asal jangan pindah alam dahulu, kataku. 😂💜
