Cisadon: Ketika Perjalanan Pulang Justru Menjadi Cerita yang Paling Berkesan

Untuk perjalanan kali ini, aku pergi bersama seorang teman yang katanya belum pernah trekking sama sekali, dan kebetulan karena aku juga suka yang terkait alam, maka begitu teman aku menyarankan lokasi ini, aku mah langsung gas aja tanpa ada pikiran aneh-aneh terkait dengan tempat ini.

๐ŸŒฟ Awal Perjalanan yang Terlalu Santai

Bawaan yang aku bawa hari itu sangat standar, hanya baju ganti, payung, jas hujan, botol minum berisi air putih, dan membawa sedikit uang cash, siapa tahu di sana mau jajan makanan atau minuman, aku juga hanya menggunakan sepatu lari dan tanpa membawa topi, karena akan mengandalkan jaket parasut berkupluk yang biasa aku pakai ketika menggunakan kendaraan bermotor. Setelah janjian di tempat yang kami sepakati, kami berboncengan bersama, dan mampir dulu sarapan soto ayam, supaya ada energi untuk trekking. Perjalanan pagi ini kurang lebih akan memakan waktu sekitar 45 menit dari Citeureup.

Akhirnya kami tiba di lokasi parkiran Cisadon sekitar jam 9 pagi, setelah sebelumnya sempat ada drama kecil yaitu motor teman aku hampir aja ga kuat melaju pas di tanjakan, aku pun bercanda bahwa jual aja motor ini klo memang tidak kuat di tanjakan, karena biasanya kata-kata itu berlaku untuk di motor aku hehe, dan ternyata aku cukup kaget karena parkirannya sudah sangat penuh oleh mobil dan motor, bahkan ketika aku menanyakan ke penjaga parkir di sana, diinfokan kalau orang-orang sudah pada datang sejak pagi atau subuh, kami ternyata sudah kesiangan, karena matahari memang sudah mulai terik. Tapi nggak apa-apa, matahari tidak menyurutkan niat kami untuk trekking walau jujur kami takut hitam yah.

Kami mulai menyusuri jalan setapak yang masih didominasi tanah, dan baru jalan sebentar ada pemandangan menarik pertama yaitu kandang sapi yang sepertinya adalah milik peternak setempat. Setelah penasaran dan mampir melihat sebentar, kami melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya, informasi yang terpampang di loket yaitu perjalanan ke atas akan ditempuh sekitar 7 km, jadi apabila pulang pergi total perjalanan menjadi 14 km, wow aku hanya tersenyum sambil berpikir, “Siapa takut?” 

Kandang sapi di awal jalur trekking Cisadon Bogor

Jalanan diawali dengan tanjakan plus harus berhati-hati dikarenakan banyak bebatuan di sepanjang perjalanannnya. Bagi kami saat itu, wah, belum ada 1 km udah seperti ini bagaimana nanti untuk sisa perjalanannya. Kami berjalan santai sambil asyik mengobrol tentang banyak hal, dan tanpa sadar sudah 1 jam berjalan, sehingga kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di warung kedua untuk membeli kelapa muda. Warungnya sederhana namun penjualnya sangat ramah, view-nya juara, dan aku sangat menikmati cuaca dan udara yang sangat berbeda dengan di ibukota.

Setelah agak segar, perjalanan kami lanjutkan kembali hingga melewati beberapa warung dan akhirnya menemukan tempat yang agak luas untuk bisa beristirahat sebentar, baik untuk makan cemilan, sholat, minum dan sekadar melanjutkan obrolan yang kami bahas di sepanjang jalan. Teman aku pun menemukan ada sisa ranting yang cukup tebal untuk dijadikan seperti layaknya trekking pole, karena kami berdua memang tidak ada yang punya, makanya tidak ada yang membawanya hehe. Kami tidak menyadari bahwa ternyata lokasi ini masih sangat jauh dari puncaknya. Sekitar jam 1 siang kami mulai melanjutkan perjalanan ke atas dengan rute yang masih sama, semuanya serba berbatu dan agak licin, namun di sepanjang perjalanan, view-nya memang seindah itu, syahdu dan juga bikin betah untuk merekam kondisi di sekitar.

Jalur trekking Cisadon di pinggir bukit yang dikelilingi pepohonan
Jalur menuju Cisadon menyuguhkan pemandangan hijau yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Ada juga 1 spot menarik yang dimana bukan jurang tapi bagus untuk dijadikan spot foto atau bikin video estetik, aku nggak tahu ini tempat biasanya dipergunakan untuk apa tapi sepertinya mungkin untuk villa kali ya.

Area terbuka dengan pemandangan perbukitan di jalur Cisadon
Salah satu spot terbuka yang menarik untuk beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan.

Oh ya di sepanjang perjalanan, banyak sekali orang yang sudah mulai trail run ke arah bawah, bahkan mendekati jam 2 siang, semakin banyak motor yang turun. Aku sempat berpikir apakah ini nanti masih keburu untuk sampai di puncaknya ya? Setiap melewati warung, ada saja yang menyemangati kami untuk melanjutkan sampai ke atas, walau sebenarnya sudah sangat kesiangan untuk naik, begitu menurut orang-orang di sana.

Jalur trekking melewati area pohon bambu menuju Cisadon
Area pohon bambu di Cisadon

Setelah melewati area pohon bambu yang terlihat agak menyeramkan, jalan sebentar lagi, dan ternyata Yeay! Gerbang Selamat Datang di Cisadon akhirnya terlihat. Hal ini semakin menambah semangat untuk mempercepat langkah kaki kami. Waktu saat itu menunjukkan jam 3 sore, dan itu berarti total perjalanan naik ke atas adalah 6 jam, kalau dipotong waktu istirahat berarti kurang lebih 5 jam berjalan, aku berpikir wah terlalu santai sekali kami yah, sampai bisa selama itu. Di saat yang lainnya jam 3 sore sudah mulai sampai di parkiran kendaraan, kami malah baru mulai menikmati pemandangan di danaunya.

Gerbang Selamat Datang di Cisadon Bogor
Setelah berjalan berjam-jam, akhirnya kami tiba di gerbang Selamat Datang di Cisadon.

๐ŸŒฟ Saat Cuaca Berubah

Hujan yang awalnya terlihat biasa, ternyata mengubah seluruh perjalanan kami.

Di Cisadon atas, pemandangannya sangat indah, ada warung, mushola, danau yang cukup luas, bisa naik kapal kecil juga, dan kalau hanya sekadar menikmati suasana sambil makan indomie bisa banget buat duduk di pinggiran danaunya. 

Pemandangan danau dan perbukitan di Cisadon Bogor
Pemandangan danau yang tenang menjadi hadiah setelah perjalanan panjang menuju Cisadon.

Kami tidak mau melewatkan momen tersebut, sehingga kami langsung mengambil beberapa foto, video dan sekali lagi sambil mengobrol banyak hal. Kami memutuskan untuk memesan indomie dulu sebelum turun, karena sudah sangat lapar, dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Pengunjung menikmati pemandangan danau Cisadon sebelum hujan
Saat itu langit masih cukup cerah dan kami belum menyangka cuaca akan berubah hanya dalam beberapa menit.

Saat itu langit masih cerah. Kami duduk cukup lama di tepi danau, menikmati suasana sambil sesekali merekam video. Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa menit kemudian perjalanan pulang kami akan berubah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan. Hujan tiba-tiba turun dan kabut mulai menyelimuti danau, suasana pun semakin dingin karena anginnya juga cukup kencang. Kami langsung buru-buru pindah ke area yang ada penutupnya karena hujan menjadi sangat deras, dan juga supaya nanti saat makan tidak dalam kondisi basah kehujanan.

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk turun sebelum maghrib baik kondisi masih deras atau tidak, dikarenakan tidak ada yang membawa senter sama sekali, hanya jas hujan, dan itu pun kami sudah semakin kedinginan, indomie beserta teh panas tidak dapat mengurangi dingin yang kami rasakan di sana. Dengan berbekal payung, jas hujan dan senter seadanya dari 1 handphone, kami mulai menyusuri jalan setapak turun dengan cukup waspada dan takut, karena hujan anginnya malah semakin kencang, semakin gelap area di sekitarnya, dan sebelah kanan ternyata jurang, penerangan hanya berasal dari warung makan yang berada di lokasi tertentu, plus jarak antar warung pun agak jauh. Dalam kondisi ekstrem ini kami masih saling berbicara, namun obrolannya sudah saling menyemangati, karena aku seringkali terpleset, sepatu lari yang aku pergunakan tidak dapat menahan karena tidak ada lapisan karet di bagian sol nya, sehingga setiap ketemu batu dimana airnya mengalir deras, pasti akan semakin licin, belum juga jalanan tanah yang dilalui akan semakin becek dan dalam, sehingga kalau terinjak, ya sudah sepatu dan celana warnanya udah coklat semua.

๐ŸŒฟ Perjalanan Pulang yang Menguji Nyali

Di beberapa area ternyata juga cukup seram karena yang tadinya pas naik itu hanyalah pinggiran tebing biasa, di saat hujan deras begini, ternyata menjadi aliran air yang mirip menyerupai curug tapi versi mini, sehingga harus berjalan pelan melewati jalan itu karena takut terbawa arus. Di warung pertama yang kami lewati, sempat berteduh sebentar untuk menumpang ke toilet, pemilik warung mengingatkan bahwa di bawah itu kondisinya sudah banjir, dan pasti tidak akan bisa dilewati karena cukup deras arusnya, sehingga kami memutuskan untuk berteduh sambil menunggu orang yang berjalan di belakang, karena kami sempat melihat ada kilatan lampu tapi kok seperti mati hidup terus, jadi antara percaya dan ragu juga apakah itu beneran ada orang yang berjalan. Jujur semakin malam semakin panik, hujannya tidak kunjung berhenti malah semakin awet dan lampu dari senter hape ini tidak cukup terang untuk menerangi di perjalanan.

Ternyata benar di belakang kami ada 5 orang yang sama-sama hendak turun ke bawah, hanya ada 2 yang membawa headlamp, tapi yang satunya headlampnya mati hidup gitu, cuma nggak apa-apa yang penting masih ada penerangan. Kami memutuskan melanjutkan turun ke bawah bersama mereka, dan lagi-lagi ada aja situasi yang bikin kaget, karena saat kami berjalan, ada batang pohon yang tiba-tiba tumbang ke tengah jalan, aku langsung berpikir ini kalau masuk ke berita pasti dikira ada gangguan dari penunggu tak kasat mata, tapi aku berusaha menguatkan diri sendiri dan berpikir positif bahwa ini memang hanya karena efek cuaca. Untungnya masih bisa dilewati, dan setelah berjalan sekian lama, kami akhirnya bertemu dengan banjir yang dimaksud oleh bapak pemilik warung yang tadi. Aku baru sadar bahwa saat siang tadi kami berjalan di sini memang ini hanyalah sekadar genangan air yang terlihat cukup besar, tapi siapa sangka kalau di saat hujan deras, genangan ini akan berubah menjadi seperti sungai yang alirannya cukup kuat.

Genangan air di jalur trekking Cisadon sebelum hujan deras
Kondisi jalur ini saat siang hari sebelum hujan. Malamnya, area yang sama berubah menjadi aliran air setinggi paha dengan arus yang cukup kuat.

Kami bertujuh sempat ragu untuk melintas awalnya, karena tidak yakin dengan kedalaman sungai tersebut, namun dengan kondisi lapar, lelah dan kedinginan yang  sudah cukup maksimal, akhirnya kami nekat dan saling berpegangan masing-masing agar tidak hanyut saat berjalan melintasi sungai tersebut, yang mana airnya ternyata sudah sepaha ketinggiannya, cukup tegang banget itu, kepleset sedikit aja kita semua udah langsung pindah alam ini sepertinya.

Drama sungai memang sudah selesai, namun perjalanan masih sangat menegangkan, karena sekarang jalurnya full turunan bebatuan yang dialiri air sehingga kami masih harus sangat berhati-hati, kalau tidak mau kaki kami yang menjadi korban.

Jalur berbatu yang dilalui saat trekking menuju Cisadon
Foto ini diambil saat perjalanan naik pada siang hari. Ketika kami turun malam itu, jalur yang sama sudah dialiri air hujan dan menjadi jauh lebih licin.

Selama perjalanan sudah tidak lagi memikirkan gimana kondisi tas, walau berasa basah kuyup semuanya, yang penting di pikiran kami hanya cara untuk selamat sampe ke parkiran.

Total waktu perjalanan turun ke bawah ini sekitar 3,5 jam, karena aku inget banget kita mulai turun menjelang jam 6 sore, dan sampai di parkiran jam 8.20 malam. Dan pas sampe di parkiran, voilaaa shock udah kosong melompong, isinya cuma tinggal 2 motor dan 1 mobil, dan itu adalah kendaraan kami ber 7 ini. Aku padahal masih inget banget kondisi di pagi ini, dimana untuk bergerak melintas aja susah banget karena penuh, malamnya ternyata baru sadar seluas itu ya parkiran ini, Badan udah makin menggigil dan pengen banget segera makan yang berkuah dan panas, untuk ganti baju pun rasanya hampir tak ada tenaga, karena tas kami basah kuyup semua.

Kali ini cerita kami tutup dengan berhenti di warung bakso dan memesan segelas jeruk manis panas, supaya suhu tubuh bisa kembali normal. Jujur muka kami berdua ini udah ga karuan kayak gimana bentuknya ya kan, mana kami sama sama berkacamata, tahu sendiri kan klo kehujanan pasti isinya embun semua, udah ga perlu mandi ini mah, secara 3,5 jam disiram air terus menerus, gimana ga luntur dan luruh semua ini kotoran, yang ada kulit malah udah keriput semua karena kelamaan terkena air, apalagi bagian kaki, secara tidak ada persiapan apapun untuk bahkan membawa sandal sebagai gantinya.

๐ŸŒฟ Yang Kubawa Pulang dari Perjalanan Ini

Bukan hanya foto dan video, tetapi juga pelajaran yang akan selalu aku ingat.

Kalau ditanya apakah aku akan kembali lagi ke Cisadon, jawabannya mungkin iya. Tapi lain kali, aku ingin datang dengan persiapan yang jauh lebih matang. Pengalaman kali ini mengajarkanku bahwa alam memang indah, tetapi kita juga harus menghormati kondisi alam dan tidak meremehkan cuaca. Untungnya, perjalanan ini berakhir dengan tawa, semangkuk bakso hangat, dan rasa syukur karena kami semua bisa pulang dengan selamat.

๐ŸŒฟ Yang Sebaiknya Dipersiapkan Sebelum Trekking ke Cisadon

Setelah mengalami sendiri perjalanan ini, ada beberapa hal yang rasanya ingin sekali aku bagikan untuk teman-teman yang berencana trekking ke Cisadon.

  • Datang lebih pagi agar punya waktu istirahat lebih lama di atas.
  • Jangan terlalu lama di puncak jika cuaca mulai berubah.
  • Bawa trekking pole jika punya.
  • Siapkan jas hujan dan payung.
  • Jangan lupa membawa senter atau headlamp.
  • Bawa hand warmer atau foot warmer jika musim hujan.
  • Gunakan sepatu dengan grip yang baik.
  • Siapkan air minum, camilan, dan obat-obatan pribadi.

๐ŸŒฟ Sebelum Langkah Ini Berakhir…

Naik santai sambil tertawa,

Turunnya panik karena hujan datang.

Yang penting bukan siapa paling kuat melangkah,

Tapi siapa yang pulang membawa cerita untuk dikenang. ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ