Mendengar nama Calobak saja sudah membuatku bersemangat. Setelah mengecek lokasinya di Google, ternyata kawasan ini berada di kaki Gunung Salak. Dalam bayanganku, suasananya pasti sejuk dan tenang, tetapi juga berpotensi tiba-tiba diguyur hujan atau diselimuti kabut. Apalagi, selama satu minggu terakhir, hujan mulai turun hampir setiap hari di Kota Bogor.
Seperti biasa, perjalanan diawali dengan berkumpul di tengah Kota Bogor. Untuk persiapannya, kami juga diminta melakukan jogging ringan sejak satu minggu sebelumnya. Mengingat trek yang akan dilalui sedikit menantang, latihan ini diharapkan dapat membuat kaki tidak terlalu kaget saat trekking.
Waktu tempuh menuju lokasi sekitar satu jam dan kali ini kami mengambil arah menuju Ciapus. Banyak teman perjalanan yang baru kukenal, tetapi rata-rata terlihat sangat antusias karena masing-masing sudah membayangkan akan seseru apa perjalanan di sana.
Setelah tiba di basecamp Kampung Calobak, kami disambut dengan pisang rebus dan juga teh tawar panas untuk mengisi energi sebelum pendakian, tak lupa pula kami berolahraga ringan supaya raga kuat melangkah saat di tanjakan nanti hehe
🌿Disambut Hamparan Pohpohan Sebelum Pos 1
Baru sekitar lima menit berjalan, jalur beraspal mulai berganti dengan tanah yang menanjak. Namun, rasa lelah belum sempat muncul karena pemandangan di depan kami begitu menawan. Di kanan dan kiri jalur, sejauh mata memandang, terbentang hamparan daun pohpohan yang tumbuh rapi dan memenuhi lereng. Pemandangan hijau itulah yang menjadi salah satu kesan pertamaku tentang Calobak.

Yang agak berbeda hanyalah aroma di sekitarnya. Ternyata, bau tersebut berasal dari tumpukan kantong berisi bahan yang akan digunakan sebagai pupuk. Aromanya memang cukup menyengat, tetapi semakin ke atas perlahan menghilang dan berganti dengan udara sejuk khas dataran tinggi.
🌿Situs Uyut Esih dan Cerita Kebudayaan Sunda
Akhirnya tiba di pos 1, yang sering disebut sebagai situs Uyut Esih. Di sini kami mendengarkan banyak penjelasan terkait dengan kebudayaan Sunda, dan mengapa bentuk situs ini sangat sederhana serupa dengan batu-batu yang disusun. Kami juga mendapat penjelasan bahwa peninggalan budaya di beberapa wilayah Jawa lebih sering dikenal dalam bentuk candi.

Perjalanan kemudian berlanjut sekitar 30 menit menuju Pos 2, yaitu Situs Eyang Tolok. Kondisi jalurnya mulai berbeda dan kembali menanjak dengan tingkat kesulitan sedang.
🌿Jamur-Jamur Liar Menuju Situs Eyang Tolok
Setelah melewati Pos 1, beberapa jenis jamur liar mulai menarik perhatianku. Bentuknya cukup unik dan belum pernah kulihat sebelumnya. Aku pun tidak mengetahui apakah jamur-jamur tersebut aman atau justru berbahaya untuk dikonsumsi.

Semakin jauh berjalan, suasananya terasa semakin sejuk. Dari kejauhan terdengar lantunan doa yang cukup keras, meskipun aku tidak mengetahui secara pasti dari mana suara itu berasal.
🌿Pertemuan Tak Terduga di Pos 2
Berdasarkan penjelasan yang kami dengar di lokasi, situs ini dipercaya telah ada sejak masa Megalitikum dan pernah digunakan sebagai tempat pemujaan atau tempat yang dianggap suci.

Saat kami hendak melanjutkan perjalanan dari Pos 2, tiba-tiba muncul seekor monyet di atas area situs. Ia langsung berlari menuju sebuah plastik yang berisi sisa makanan. Salah satu teman kemudian melemparkan pisang rebus yang sebelumnya kami santap di basecamp. Monyet itu langsung memakannya dengan tenang, bahkan kulit pisangnya pun ikut disantap. Aku baru tahu kalau monyet ternyata juga mau memakan kulit pisang yang sudah direbus. Momen ini terasa cukup langka, karena belum tentu setiap pengunjung Calobak akan bertemu monyet selama perjalanan.
Meski momen itu terasa menarik, pengunjung tetap sebaiknya tidak sengaja memberi makan atau terlalu mendekati satwa liar.

🌿Jalur Paling Menantang Menuju Pos 3
Selanjutnya, kami memasuki bagian trek yang paling menantang. Jalurnya terus menanjak dan, meskipun tidak terlalu dipenuhi bebatuan, kondisi tanah tetap harus diwaspadai karena cukup licin dan bisa membuat kami terpeleset jika tidak berhati-hati.

Di beberapa titik, kami menemukan pohon-pohon besar yang tumbang, termasuk beberapa batang yang melintang di sekitar jalur.
Di tengah perjalanan, sempat terjadi sedikit tragedi. Bagian bawah celanaku tersangkut pada ranting yang dipenuhi duri hingga akhirnya robek. Untungnya, duri tersebut tidak sampai menembus kulit. Jadi, kali ini bukan kakiku yang menjadi korban trekking, melainkan celanaku. Hehe.
Semakin ke atas, suasana terasa makin mendung dan gelap. Aku mulai khawatir hujan akan tiba-tiba turun. Terbayang jika air hujan mengalir deras melalui jalur tanah yang sedang kami lewati.
Di sepanjang jalur, aku juga diperkenalkan pada tanaman harendong bulu. Menurut penjelasan yang kami terima, buah tanaman ini sering dimakan burung dan dapat dikonsumsi oleh manusia.
🌿Tiba di Situs Eyang Raksa Bumi
Satu jam yang tidak terasa, akhirnya kami sampai di Pos 3 yaitu situs Eyang Raksa Bumi. Area di situs ketiga ini paling luas apabila dibandingkan dengan dua situs sebelumnya, bahkan ada rumah nonpermanen yang sering dijadikan tempat peristirahatan sementara pada saat berziarah.

Di dekat situs ketiga, terdapat sebuah batu dengan jejak yang menyerupai satu tapak kaki kanan. Hingga saat ini, aku belum mengetahui secara pasti siapa pemilik jejak tersebut atau bagaimana asal-usulnya.

🌿Turun dalam Jalur yang Mulai Licin
Karena cuaca semakin gelap dan perut mulai berbunyi, kami pun memutuskan untuk segera kembali ke basecamp. Jalur turun memang terasa lebih cepat, tetapi kami beberapa kali sempat terpeleset karena kondisi tanah cukup licin dan lembap, kemungkinan akibat hujan pada malam sebelumnya. Menariknya, aku masih menemukan beberapa jenis jamur liar yang unik di sepanjang jalan.
Di tengah perjalanan, aku sempat berhenti memperhatikan sesuatu yang terasa tidak biasa. Beberapa helai daun bergerak cukup kencang, sedangkan daun lain pada ranting yang sama terlihat diam. Entah karena arah angin yang berbeda atau hal lain, pemandangan kecil itu kembali membuatku memperhatikan detail-detail alam di sekitar.
🌿Kembali ke Basecamp Kampung Calobak
Sesampainya di basecamp, aku kembali mengabadikan beberapa hewan di sekitar, mulai dari sekawanan anjing yang terlihat tenang tetapi tidak berani mendekat saat dipanggil, berbagai jenis ayam dan entok, hingga kambing yang suaranya saling bersahutan selama kami menikmati makan siang.

🌿 Tips Trekking ke Calobak
Berdasarkan perjalanan kali ini, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sebelum trekking ke Calobak:
- Lakukan olahraga ringan atau jogging beberapa hari sebelumnya agar kaki tidak terlalu kaget saat melewati jalur yang terus menanjak.
- Gunakan sepatu trekking dengan sol yang tidak licin karena beberapa bagian jalur berupa tanah yang lembap dan cukup mudah membuat terpeleset.
- Bawa trekking pole untuk membantu menjaga keseimbangan, terutama saat melewati tanjakan dan perjalanan turun.
- Siapkan jas hujan atau ponco karena cuaca di kawasan kaki Gunung Salak dapat berubah dengan cepat.
- Bawa air minum, camilan, dan obat-obatan pribadi secukupnya.
- Jangan menyentuh atau mengonsumsi jamur liar yang ditemukan di sepanjang jalur apabila tidak mengetahui jenisnya.
- Tetap jaga kebersihan dan bawa kembali seluruh sampah pribadi.
- Tetap menghormati situs-situs yang dikunjungi selama perjalanan.
Meski jalurnya cukup menantang, persiapan yang baik akan membuat perjalanan terasa lebih aman dan menyenangkan.
🌿 Yang Kubawa Pulang dari Perjalanan Ini
Calobak mengingatkanku bahwa sebuah perjalanan tidak selalu harus dipenuhi pemandangan besar untuk bisa terasa berkesan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang menaklukkan tanjakan, tetapi juga tentang mengenal cerita dan kebudayaan yang tersimpan di setiap situs yang kami kunjungi. Ditambah pertemuan tak terduga dengan seekor monyet, jalur yang semakin licin, serta celana yang akhirnya menjadi korban ranting berduri, semuanya berubah menjadi bagian kecil dari cerita yang akan selalu kuingat.
Dari Calobak, aku membawa pulang rasa syukur karena masih bisa berjalan, belajar, tertawa, dan menemukan kejutan-kejutan sederhana di tengah alam.

🌿 Sebelum Langkah Ini Berakhir…
Melangkah pagi menuju perbukitan,
Udara sejuk menemani perjalanan.
Bukan hanya pemandangan yang menjadi kenangan,
Namun setiap kejutan di sepanjang jalan. 💜🌿
